Kamis, 19 Januari 2012

Saya bersyukur menjadi istrimu

Alhamdulillah,, tanggal 17 Juli 2011 saia sudah melewati hari bersejarah yang tak akan pernah saia lupakan. Sampai sekarang saia selalu bersyukur sudah merasakan sunnah rasol yang namanya walimah ursy. Ketika saia berada di atas pelaminan, pikiran saia tidak tertuju mimik wajah tamu yang hadir, melainkan.... di atas pelaminan itu saia malah memantapkan dalam hati saia untuk bisa menjadi istri yang baik, istri yang sholehah, isti yang lemah lembut. Betapa tidak saia terlalu mengaggung-agungkan sosok murrobi saia yang sudah menikah. Bagaimana beliau menanamkan pada diri saia, bagaimana seharusnya perempuan ketika sudah menikah....

Secara teori, saia mengerti betul materi itu.... Tetapi, entah mengapa baru-baru ini saia sadar bahwa rasa syukur itu tak hanya diucapkan dibibir saia melainkan bagaimana kita ikhlas menerima keadaan seseorang. Kita tidak bisa menuntut seseorang menjadi sosok yang sempurna, imam yang soleh dan bisa menjadi pemimpin yang baik. Ketika suami melakukan kesalahan, bercobalah berpikir positif bahwa suami kita bukan orang yang sempurna, berpikirlah bahwa suami kita mempunyai karakter yang sama dengan kita. Karena dalam al-quran pun mengatakan kita akan mendapatkan yang baik apabila kita baik atau sebaliknya.

Subhanallah, Allah memang sayang terhadap semua umat-Nya. Saia pun terbagi rata dengan rasa kasih sayang Allah. Subhanallah, memang saia perlu banyak membaca buku karena hanya buku yang bisa dengan tepat menasehati saia ketika iman saia mulai turun naik. Saia orang yang terlalu santai dan cuek. Ternyata Allah menegur saia, ketika saia membaca sebuah siroh yang dimana menuliskan bagaimana kerja keras fatimah mengurusi semua pekerjaan rumah dan harus menghancurkan gandum dengan kedua tangannya bukan melalui mesin penggiling. Bagaimana ia menangis ketika merasakan kelelahan yang tak habis-habisnya.... dan bagaimana pula Rasulullah menasehati Fatimah akan kerja kerasnya mengurusi pekerjaan rumah yang tak habis-habisnya itu.

Saia baru sadar, saia malah tidak berkaca dengan anak Rasulullah yang mulia. Saia yang hanya melayani dan mengurusi satu orang yaitu suami saia, saia masih saja mengeluh ketika suami saia minta dipijatin tiap harinya... Saia hampir bersungut-sungut ketika dia mengeluh kesakitan tiap harinya. Astagfirullah.....

Saia yang belum merasakan lelahnya merawat anak yang sakit, dua, tiga atau empat anak sekaligus.... Saia belum merasakannya....

Saia sangat bersyukur mempunyai suami seperti suami saia. Saia bersyukur bisa merasakan indahnya pernikahan karena masih banyak perempuan-perempuan lain merindukan sosok suami idaman. Saia sangat bersyukur ditakdirkan menjadi umat Rasulullah dan Ciptaan Allah...bisa "berdiri" di tiang agama islam. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung....Semoga saia dan suami saia dipertemukan oleh Allah di surga kelak.... Amin....