Bila ada yang mengatakan kau bodoh, jangan langsung tersinggung kawan karena belum tentu ia lebih pintar darimu. Bila perlu berikan senyuman termanismu. Manusia tidak berhak untuk menilai manusia lainnya karena hanya Allah yang berhak menilai apakah manusia itu baik atau tidaknya.
Mungkin tanpa sadar atau tidak disengaja saya pernah mengatakan hal ini. Jadi maafkan saya apabila dari mulut saya terucap kata-kata yang mendoktrin “manusia ini tidak lebih pintar dari saya”, atau “kamu kok gaptek banget sih?” Secara sadar atau tidak, kita menganggap perkataan seperti itu hanya ucapan nyeleneh yang biasa. Tapi, bagaimana yang mendengar atau jadi “korban” ucapan kita? Apakah dia akan baik-baik saja setelah mendengar perkataan itu?
Kalau dia termotivasi lebih lagi dalam mencari ilmu Allah, itu baik. Tapi, bagaimana kalau dia menjadi tersinggung karena ucapan kita? Bahaya kawan. Jangan kita menoreh luka pada kawan-kawan kita hanya karena lidah kita. Karena bila ia belum memaafkan kamu, Allah tak akan memaafkan pula. Naudzubillahi mindzalik!
Saya pernah mengalami kejadian seperti ini. Saya pernah mengucapkan kata-kata yang membuat kawan saya tersinggung dan sampai-sampai ia tak ingin memaafkan kesalahan saya. Dalam kepala saya, saya tidak menyangka perkataan lidah saya ternyata membuat
kejadian begitu rumit. Sampai-sampai saya berkali-kali untuk meminta maaf tapi tak ada respon. Sampailah pada puncak lelah saya, saya menangis tersedu-sedu karena saya tak ingin keadaan menjadi lebih buruk, tali silahturahim kami rusak dan Allah murka pada saya.
Dalam kepala saya langsung teringat Q.S. Hujuraat:11 ; Hai-hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolo-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Allah menciptakan mulut ditengah-tengah dan hanya satu, Allah mempunyai alasannya. Lidah dipagar oleh gigi dan diselimuti oleh bibir agar kita sadar bahwa betapa bahayanya lidah tersebut. Jadi berhati-hatilah berucap.
Saya juga teringat cerita sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-shiddiq dan Umar bin khatab. Betapa sedihnya Abu Bakar ketika perkataannya ternyata membuat Umar bin Khatab sakit hati. Betapa sedihnya Abu Bakar ketika datang ke rumah Umar tidak di jawab salamnya sampai 3 kali. Sampai ia menangis.Maka, berhati-hatilah berucap dan segeralah beristigfar ketika sadar perkataan kita tak pantas untuk diucapkan.
Kawan, betapa hebatnya lidah itu bisa menghancurkan ukhuwah kita. Kawan, apabila saya pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati kalian, saya benar-benar minta maaf. Kawan, ilmu yang saya dapatkan tak sebanding dengan ilmu Allah, jadi ingatkan saya bahwa saya tidak lebih pintar dan tak berhak mendoktrin kalian.
Jumat, 21 Januari 2011
Tangisan Buah Hatiku
Bagi para wanita, menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu adalah berarti menjalankan sebuah peran besar dengan segala tuntutannya, ketika ia menikah, saat itu pula segala kesenangan serta kesusahan ditanggung bersama. Masa-masa indah di awal pernikahan, mungkin belum mendatangkan berbagai cobaan yang sebenarnya akan menguatkan ikatan cinta serta pula keimanan sepasang suami istri. Namun, ada pula mereka yang sejak awal harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan setengah dien
.
Tak sedikit kita mendapati cerita-cerita seputar lika-liku seputar rumah tangga, yang kadang membuat hati miris dan bahkan bisa jadi, mengakibatkan ketakutan bagi yang belum menikah. Khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan seperti para istri lainnya.
Terkait dengan pengantar diatas, saya sendiri mengalami cerita yang membuat hati saya tergerak dan menjadi pendengar baik bagi teman cerita saya. Tidak lain, dia keponakan saya sendiri. Keponakan yang masih berumur 10 tahun tetapi sudah banyak “skenario negatif” yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sering terjadi bahkan. Ia mengungkapkan rasa tidak sukanya ketika ia mendengar saya ingin menjalankan sunnah rasul yaitu menikah.
Ya dengan keras mengatakan tidak setuju dan tak ingin saya menikah dengan si fulan. Ketika ia menyatakan perkataan pedas itu, saya sedikit merinding ketika ia memberikan alasan mengapa ia tak ingin saya menikah.
“Nanti aku nggak ada yang sayang lagi.” Itu perkataan keras yang ia tujukan kepada saya sambil menutup matanya hampir mengeluarkan air mata. Terlihat ia tak ingin melihatkan air matanya mengalir begitu saja. Terlihat ia ingin tegar tetapi ia tidak bisa mengalahkan emosi dan rasa sedihnya.
Saya jadi diam terpaku, binggung harus berkata apa dan menjelaskan bagaimana agar ia menerima dengan pola pikir kekanakannya. Bagaimana ia bisa menerima penjelasan saya, masalah yang seharusnya tak perlu ia pikirkan. Ketika ia mengatakan seperti itu, saya sadar ia kurang kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh ibu tercintanya. Kurang pelukan lembut, “sekolah” yang wajar, dan rumah yang nyaman. Rumah tangga selain menjadi tempat untuk mendapatkan rahmat Allah, tempat untuk menjadi pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.
Mungkin dalam pikirannya, ia tak ingin saya menjadi korban kedua setelah apa yang terjadi pada ibunya. Ia tak ingin sosok calon suami saya malah menjadi bahaya bagi saya. Ia tak ingin melihat sinetron sama di tempat yang berbeda. Ia tak ingin orang-orang yang sayang padanya menjadi sosok yang gampang untuk menangis dan melampiaskan rasa emosinya kepada anak-anaknya. Mungkin itu yang ia pikirkan dan saya bisa membacanya.
Ia tak ingin rasa sayang yang saya berikan yang ia tak dapatkan sepenuhnya dari ibunya hilang dan berkurang ketika saya menikah apalagi mempunyai anak.
“Nanti kakak cuma sayang sama anaknya, lupa sama aku.” Itulah perkataan miris yang ia ucapkan dari bibir manisnya. Sepertinya saya susah untuk menerima perkataannya dan wajar ketika saya mempunyai anak akan saya curahkan kasih sayang yang ia bicarakan. Tapi, pada situasi ini. Perkataan egois itu tak akan saya ucapkan.
Dengan sangat hati-hati saya memberikan penjelasan yang masuk akal untuknya. Mengatakan kalau, nanti saya menikah rasa kasih sayang saya tak akan berkurang untuknya, saya akan tetap menjadi pendengar setianya ketika ia melihat tontonan ekstrim di rumahnya. Saya sadar, buah hatiku ini menjadi anak yang gampang tersinggung, jadi sosok anak yang cengeng, dan tidak bisa perkataan keras dan “alis terangkat”.
Kesulitan yang dihadapi merupakan ujian bagi daya tahan diri untuk melewatinya, momen penting untuk menguji tingkat keimanan yang telah diraih. Tenang sayang, saya akan menjadi ibu yang tegar kelak. Dan kamulah yang pertama kali yang saya bagikan rasa kasih sayang saya. Saya hanya berdo’a semoga kamu menjadi anak yang sholehah, tegar, dan menjadi orang pertama dan mengamini saya ketika saya membutuhkan tawa manis dan canda lucumu. Tetap tersenyum, sayang. I love you….
.
Tak sedikit kita mendapati cerita-cerita seputar lika-liku seputar rumah tangga, yang kadang membuat hati miris dan bahkan bisa jadi, mengakibatkan ketakutan bagi yang belum menikah. Khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan seperti para istri lainnya.
Terkait dengan pengantar diatas, saya sendiri mengalami cerita yang membuat hati saya tergerak dan menjadi pendengar baik bagi teman cerita saya. Tidak lain, dia keponakan saya sendiri. Keponakan yang masih berumur 10 tahun tetapi sudah banyak “skenario negatif” yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sering terjadi bahkan. Ia mengungkapkan rasa tidak sukanya ketika ia mendengar saya ingin menjalankan sunnah rasul yaitu menikah.
Ya dengan keras mengatakan tidak setuju dan tak ingin saya menikah dengan si fulan. Ketika ia menyatakan perkataan pedas itu, saya sedikit merinding ketika ia memberikan alasan mengapa ia tak ingin saya menikah.
“Nanti aku nggak ada yang sayang lagi.” Itu perkataan keras yang ia tujukan kepada saya sambil menutup matanya hampir mengeluarkan air mata. Terlihat ia tak ingin melihatkan air matanya mengalir begitu saja. Terlihat ia ingin tegar tetapi ia tidak bisa mengalahkan emosi dan rasa sedihnya.
Saya jadi diam terpaku, binggung harus berkata apa dan menjelaskan bagaimana agar ia menerima dengan pola pikir kekanakannya. Bagaimana ia bisa menerima penjelasan saya, masalah yang seharusnya tak perlu ia pikirkan. Ketika ia mengatakan seperti itu, saya sadar ia kurang kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh ibu tercintanya. Kurang pelukan lembut, “sekolah” yang wajar, dan rumah yang nyaman. Rumah tangga selain menjadi tempat untuk mendapatkan rahmat Allah, tempat untuk menjadi pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.
Mungkin dalam pikirannya, ia tak ingin saya menjadi korban kedua setelah apa yang terjadi pada ibunya. Ia tak ingin sosok calon suami saya malah menjadi bahaya bagi saya. Ia tak ingin melihat sinetron sama di tempat yang berbeda. Ia tak ingin orang-orang yang sayang padanya menjadi sosok yang gampang untuk menangis dan melampiaskan rasa emosinya kepada anak-anaknya. Mungkin itu yang ia pikirkan dan saya bisa membacanya.
Ia tak ingin rasa sayang yang saya berikan yang ia tak dapatkan sepenuhnya dari ibunya hilang dan berkurang ketika saya menikah apalagi mempunyai anak.
“Nanti kakak cuma sayang sama anaknya, lupa sama aku.” Itulah perkataan miris yang ia ucapkan dari bibir manisnya. Sepertinya saya susah untuk menerima perkataannya dan wajar ketika saya mempunyai anak akan saya curahkan kasih sayang yang ia bicarakan. Tapi, pada situasi ini. Perkataan egois itu tak akan saya ucapkan.
Dengan sangat hati-hati saya memberikan penjelasan yang masuk akal untuknya. Mengatakan kalau, nanti saya menikah rasa kasih sayang saya tak akan berkurang untuknya, saya akan tetap menjadi pendengar setianya ketika ia melihat tontonan ekstrim di rumahnya. Saya sadar, buah hatiku ini menjadi anak yang gampang tersinggung, jadi sosok anak yang cengeng, dan tidak bisa perkataan keras dan “alis terangkat”.
Kesulitan yang dihadapi merupakan ujian bagi daya tahan diri untuk melewatinya, momen penting untuk menguji tingkat keimanan yang telah diraih. Tenang sayang, saya akan menjadi ibu yang tegar kelak. Dan kamulah yang pertama kali yang saya bagikan rasa kasih sayang saya. Saya hanya berdo’a semoga kamu menjadi anak yang sholehah, tegar, dan menjadi orang pertama dan mengamini saya ketika saya membutuhkan tawa manis dan canda lucumu. Tetap tersenyum, sayang. I love you….
Selasa, 04 Januari 2011
Silahturahim yanG indaH
Melihat senyummu... aku juga mulai tersenyum....
walaupun saaT ini keadaannya Mulai berat...
ketika Itu kau memberikan nasehat panjang yang entah kau ilhami dari siapa...
Aku mulai suka pergaulanKu sekarang... salah satunya berteman denganmu...
kau tampak jauh lebih tua daripada Ku..sangat JAuh tapi dengan pelan kau menasehatiku seperti kau menasehati adikmu....
aku mulai bisa bertahan karena kau dan sahabat lainnya....
bila kata2mu mulai menasehati aku seperti terhipnotis untuk mengikuti kata2mu....
walau kedengaran sedikit susah dan aneh....
tapi pikiranku dengan cepat menerima apa yag kau katakan....
Dari AIR kita belajar Ketenangan
Dari BATU kita belajar ketegaran
Dari TANAH kita belajar kehidupan
Dari KUPU-KUPU kita belajar merubah diri
Dari PADi kita belajar rendah hati
Dari ALLAH kita belajar kasih dan sayang yang sempurna
Meliht ke ATAS kita bersyukur atas semua yang ada
Melihat ke SAMPING kita mendapat semangat kebersamaan
Melihat ke BELAKANG kita mendapat pegalaman berharga
Melihat ke DALAM kita bisa intropeksi diri
Melihat ke DEPAN kita bisa menjadi lebih baik...
Itu yang kau katakan kepadaKu....sedikiT lebaR tetapi banyak MAnfaaT bagiku...
kau mulai memberi dorongan kepadaku
dengan simpel "kamu mau di dorong pake apa biar bisa semangat LAgi?"
Kehidupan itu anggaP seperti AIR,,, belajar Banyak laH u DArinya....
.....Diam......
walaupun saaT ini keadaannya Mulai berat...
ketika Itu kau memberikan nasehat panjang yang entah kau ilhami dari siapa...
Aku mulai suka pergaulanKu sekarang... salah satunya berteman denganmu...
kau tampak jauh lebih tua daripada Ku..sangat JAuh tapi dengan pelan kau menasehatiku seperti kau menasehati adikmu....
aku mulai bisa bertahan karena kau dan sahabat lainnya....
bila kata2mu mulai menasehati aku seperti terhipnotis untuk mengikuti kata2mu....
walau kedengaran sedikit susah dan aneh....
tapi pikiranku dengan cepat menerima apa yag kau katakan....
Dari AIR kita belajar Ketenangan
Dari BATU kita belajar ketegaran
Dari TANAH kita belajar kehidupan
Dari KUPU-KUPU kita belajar merubah diri
Dari PADi kita belajar rendah hati
Dari ALLAH kita belajar kasih dan sayang yang sempurna
Meliht ke ATAS kita bersyukur atas semua yang ada
Melihat ke SAMPING kita mendapat semangat kebersamaan
Melihat ke BELAKANG kita mendapat pegalaman berharga
Melihat ke DALAM kita bisa intropeksi diri
Melihat ke DEPAN kita bisa menjadi lebih baik...
Itu yang kau katakan kepadaKu....sedikiT lebaR tetapi banyak MAnfaaT bagiku...
kau mulai memberi dorongan kepadaku
dengan simpel "kamu mau di dorong pake apa biar bisa semangat LAgi?"
Kehidupan itu anggaP seperti AIR,,, belajar Banyak laH u DArinya....
.....Diam......
Langganan:
Postingan (Atom)