Rabu, 30 Maret 2011

Kisah Penuh Hikmah, Kisah Sebuah Pernikahan


"Sedikit Renungan cerita buat ita yang banyak hikmahnya jika kita mau mengkajinya."

Hari pernikahanku. hari yang paling bersejarah dalam hidup. seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tidak ada satu pun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu. Beliau yang paling keras menentang perawinanku. Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari.

"Jadi juga kau nikah sama 'buntelan karung hitam' itu?" Duh... hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut 'buntelan karung hitam'.

“Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!” sambung ibu lagi.

“Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Allah.
Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu…?” Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

“Oh…. rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!”

DEGG !!!!

“Yanto…. jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba,” teguran Ismail membuyarkan lamunanku.

Segera kuucapkan istighfar dalam hati.

“Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah …akhi,” sekali lagi Ismail memberi semangat padaku.

“Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai !” Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.

“Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien.
Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain.”

Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.Memandangi
istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam,akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

“Assalamu’alaikum …. permintaan hafalan Qur’annya mau di cek kapan De’…?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya.

Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. “Nanti saja dalam qiyamullail,” jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.

Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku ‘tidak menarik’. Sekelebat pikiran itu muncul ….dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

“Bang, sudah saya katakan sejak awal ta’aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka,” …

Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu
tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai
sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS An-Nisa:19)


Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekatlekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

“Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih
sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya
dengan segenap hati yang ikhlas.”

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu. “Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.

“Tidak…De’. Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi,” paparku sambil menggenggam erat tangannya.

Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do’a kubentangkan pada Nya.

“Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !”


Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam- malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya.

“…dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingantandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah …” (QS. al- Baqarah:165)
=========================================

Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih.

Kisah Penuh Hikmah, Aku Ingin Anak LelakiKu Menirumu


Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:

“Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab:

“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:
“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.

“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.

Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,

“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!”
Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.

Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi.

Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati.

Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.

Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.

Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.

Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad kepelukan suamiku.

Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.
Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:

Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, Alhamdulillah...

Senin, 14 Maret 2011

Urgensi Tarbiyah...

TARBIYAH...

Ketika kata besar ini mulai menyelimuti hati dan jalur dakwah mulai berkobar dan memberikan jalannya... apa selanjutnya yang akan saia tempuh? bagaimana mengawalinya?

Saia menyelami tarbiyah mulai dari 2006 sampai sekarang. Tetapi, kemajuan apa yang saia dapat? Apakah niat awal masih berkecambuk di hati yaitu hanya sekedar memperbaiki diri, perbaikan pelan namum pasti. Kemudian siap untuk mulai membagi ilmu yang didapatkan selama ini.

Saia teringat perkataan salah satu motivator dan penyemangat bagi saya... bahwa jalan dakwah itu banyak. Tidak harus kita kekeh memakai cara A namun dalam lingkungan tertentu, orang-orang muslim tidak bisa memakai cara A. Masih banyak cara lainnya. B-Z akan menanti. Ketika iman mulai naik turun apa salahnya kita merefersh kembali pikiran kita pada lingkungan luar... dengan cara bersilahturahim di jalan tarbiyah.

Saia lebih senang menyebutnya LIQO atau halaqah. Ketika saia berjalan sendiri ketika itu pula saia merindukan silahturahim teman-teman muslimah saia. Ketika saia sendiri datang dan saia mulai lesu karena hanya saia yang hadir, murobbi saia mulai memberikan semangat dan memberikan gambaran bahwa kita tidak sendiri di majelis ini. Banyak malaikat-malaikat di sekililing kita. Subhanallah.

Bagaimana ia pula menggambarkan seorang abu dzar al-qhifari... orang sederhana yang ketika sendiri tetapi Allah memilihkan jalan dan memutuskan ia ikut serta dalam membantu Rasulullah berperang. Begitu cintanya Abu Dzar kepada Allah... Mendengar siroh ini, saia mulai merasakan 'saia nggak sendiri'. Jalan dakwah begitu terjal. Bisa dikatakan tidak mudah dan tidak ada yang enak. Penuh duri, tanjakan dan perlu keikhlasan waktu, pikiran, otak, hati, fisik, maupun finansial.

Tetapi, saia akan melempar semua onak itu dengan senyummu ukhitifilah. Agar tak terasa sakit yang menusuk rasa lelah.
Saia akan menaiki tanjakan dan tikungan tajam itu dengan semangat yang kalian berikan ketika nama Allah dan Rasulullah kita sebut....

Catatan hati kecilku....

Saia mulai menikmati tarbiyah bersama murobi saia ini, menyelami satu persatu ilmu yang ia berikan tetapi ketika itu pula Allah menantang saia untuk mencari ilmu dengan orang yang berbeda, dengan cara yang berbeda tetapi jalan yang sama.... Semoga Barakah...

Jumat, 21 Januari 2011

Bahaya Lidah

Bila ada yang mengatakan kau bodoh, jangan langsung tersinggung kawan karena belum tentu ia lebih pintar darimu. Bila perlu berikan senyuman termanismu. Manusia tidak berhak untuk menilai manusia lainnya karena hanya Allah yang berhak menilai apakah manusia itu baik atau tidaknya.

Mungkin tanpa sadar atau tidak disengaja saya pernah mengatakan hal ini. Jadi maafkan saya apabila dari mulut saya terucap kata-kata yang mendoktrin “manusia ini tidak lebih pintar dari saya”, atau “kamu kok gaptek banget sih?” Secara sadar atau tidak, kita menganggap perkataan seperti itu hanya ucapan nyeleneh yang biasa. Tapi, bagaimana yang mendengar atau jadi “korban” ucapan kita? Apakah dia akan baik-baik saja setelah mendengar perkataan itu?

Kalau dia termotivasi lebih lagi dalam mencari ilmu Allah, itu baik. Tapi, bagaimana kalau dia menjadi tersinggung karena ucapan kita? Bahaya kawan. Jangan kita menoreh luka pada kawan-kawan kita hanya karena lidah kita. Karena bila ia belum memaafkan kamu, Allah tak akan memaafkan pula. Naudzubillahi mindzalik!

Saya pernah mengalami kejadian seperti ini. Saya pernah mengucapkan kata-kata yang membuat kawan saya tersinggung dan sampai-sampai ia tak ingin memaafkan kesalahan saya. Dalam kepala saya, saya tidak menyangka perkataan lidah saya ternyata membuat
kejadian begitu rumit. Sampai-sampai saya berkali-kali untuk meminta maaf tapi tak ada respon. Sampailah pada puncak lelah saya, saya menangis tersedu-sedu karena saya tak ingin keadaan menjadi lebih buruk, tali silahturahim kami rusak dan Allah murka pada saya.

Dalam kepala saya langsung teringat Q.S. Hujuraat:11 ; Hai-hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolo-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Allah menciptakan mulut ditengah-tengah dan hanya satu, Allah mempunyai alasannya. Lidah dipagar oleh gigi dan diselimuti oleh bibir agar kita sadar bahwa betapa bahayanya lidah tersebut. Jadi berhati-hatilah berucap.

Saya juga teringat cerita sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-shiddiq dan Umar bin khatab. Betapa sedihnya Abu Bakar ketika perkataannya ternyata membuat Umar bin Khatab sakit hati. Betapa sedihnya Abu Bakar ketika datang ke rumah Umar tidak di jawab salamnya sampai 3 kali. Sampai ia menangis.Maka, berhati-hatilah berucap dan segeralah beristigfar ketika sadar perkataan kita tak pantas untuk diucapkan.

Kawan, betapa hebatnya lidah itu bisa menghancurkan ukhuwah kita. Kawan, apabila saya pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati kalian, saya benar-benar minta maaf. Kawan, ilmu yang saya dapatkan tak sebanding dengan ilmu Allah, jadi ingatkan saya bahwa saya tidak lebih pintar dan tak berhak mendoktrin kalian.

Tangisan Buah Hatiku

Bagi para wanita, menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu adalah berarti menjalankan sebuah peran besar dengan segala tuntutannya, ketika ia menikah, saat itu pula segala kesenangan serta kesusahan ditanggung bersama. Masa-masa indah di awal pernikahan, mungkin belum mendatangkan berbagai cobaan yang sebenarnya akan menguatkan ikatan cinta serta pula keimanan sepasang suami istri. Namun, ada pula mereka yang sejak awal harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan setengah dien
.
Tak sedikit kita mendapati cerita-cerita seputar lika-liku seputar rumah tangga, yang kadang membuat hati miris dan bahkan bisa jadi, mengakibatkan ketakutan bagi yang belum menikah. Khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan seperti para istri lainnya.
Terkait dengan pengantar diatas, saya sendiri mengalami cerita yang membuat hati saya tergerak dan menjadi pendengar baik bagi teman cerita saya. Tidak lain, dia keponakan saya sendiri. Keponakan yang masih berumur 10 tahun tetapi sudah banyak “skenario negatif” yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sering terjadi bahkan. Ia mengungkapkan rasa tidak sukanya ketika ia mendengar saya ingin menjalankan sunnah rasul yaitu menikah.

Ya dengan keras mengatakan tidak setuju dan tak ingin saya menikah dengan si fulan. Ketika ia menyatakan perkataan pedas itu, saya sedikit merinding ketika ia memberikan alasan mengapa ia tak ingin saya menikah.

“Nanti aku nggak ada yang sayang lagi.” Itu perkataan keras yang ia tujukan kepada saya sambil menutup matanya hampir mengeluarkan air mata. Terlihat ia tak ingin melihatkan air matanya mengalir begitu saja. Terlihat ia ingin tegar tetapi ia tidak bisa mengalahkan emosi dan rasa sedihnya.

Saya jadi diam terpaku, binggung harus berkata apa dan menjelaskan bagaimana agar ia menerima dengan pola pikir kekanakannya. Bagaimana ia bisa menerima penjelasan saya, masalah yang seharusnya tak perlu ia pikirkan. Ketika ia mengatakan seperti itu, saya sadar ia kurang kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh ibu tercintanya. Kurang pelukan lembut, “sekolah” yang wajar, dan rumah yang nyaman. Rumah tangga selain menjadi tempat untuk mendapatkan rahmat Allah, tempat untuk menjadi pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.

Mungkin dalam pikirannya, ia tak ingin saya menjadi korban kedua setelah apa yang terjadi pada ibunya. Ia tak ingin sosok calon suami saya malah menjadi bahaya bagi saya. Ia tak ingin melihat sinetron sama di tempat yang berbeda. Ia tak ingin orang-orang yang sayang padanya menjadi sosok yang gampang untuk menangis dan melampiaskan rasa emosinya kepada anak-anaknya. Mungkin itu yang ia pikirkan dan saya bisa membacanya.

Ia tak ingin rasa sayang yang saya berikan yang ia tak dapatkan sepenuhnya dari ibunya hilang dan berkurang ketika saya menikah apalagi mempunyai anak.

“Nanti kakak cuma sayang sama anaknya, lupa sama aku.” Itulah perkataan miris yang ia ucapkan dari bibir manisnya. Sepertinya saya susah untuk menerima perkataannya dan wajar ketika saya mempunyai anak akan saya curahkan kasih sayang yang ia bicarakan. Tapi, pada situasi ini. Perkataan egois itu tak akan saya ucapkan.

Dengan sangat hati-hati saya memberikan penjelasan yang masuk akal untuknya. Mengatakan kalau, nanti saya menikah rasa kasih sayang saya tak akan berkurang untuknya, saya akan tetap menjadi pendengar setianya ketika ia melihat tontonan ekstrim di rumahnya. Saya sadar, buah hatiku ini menjadi anak yang gampang tersinggung, jadi sosok anak yang cengeng, dan tidak bisa perkataan keras dan “alis terangkat”.

Kesulitan yang dihadapi merupakan ujian bagi daya tahan diri untuk melewatinya, momen penting untuk menguji tingkat keimanan yang telah diraih. Tenang sayang, saya akan menjadi ibu yang tegar kelak. Dan kamulah yang pertama kali yang saya bagikan rasa kasih sayang saya. Saya hanya berdo’a semoga kamu menjadi anak yang sholehah, tegar, dan menjadi orang pertama dan mengamini saya ketika saya membutuhkan tawa manis dan canda lucumu. Tetap tersenyum, sayang. I love you….

Selasa, 04 Januari 2011

Silahturahim yanG indaH

Melihat senyummu... aku juga mulai tersenyum....
walaupun saaT ini keadaannya Mulai berat...
ketika Itu kau memberikan nasehat panjang yang entah kau ilhami dari siapa...

Aku mulai suka pergaulanKu sekarang... salah satunya berteman denganmu...

kau tampak jauh lebih tua daripada Ku..sangat JAuh tapi dengan pelan kau menasehatiku seperti kau menasehati adikmu....

aku mulai bisa bertahan karena kau dan sahabat lainnya....
bila kata2mu mulai menasehati aku seperti terhipnotis untuk mengikuti kata2mu....

walau kedengaran sedikit susah dan aneh....
tapi pikiranku dengan cepat menerima apa yag kau katakan....

Dari AIR kita belajar Ketenangan
Dari BATU kita belajar ketegaran
Dari TANAH kita belajar kehidupan
Dari KUPU-KUPU kita belajar merubah diri
Dari PADi kita belajar rendah hati
Dari ALLAH kita belajar kasih dan sayang yang sempurna
Meliht ke ATAS kita bersyukur atas semua yang ada
Melihat ke SAMPING kita mendapat semangat kebersamaan
Melihat ke BELAKANG kita mendapat pegalaman berharga
Melihat ke DALAM kita bisa intropeksi diri
Melihat ke DEPAN kita bisa menjadi lebih baik...

Itu yang kau katakan kepadaKu....sedikiT lebaR tetapi banyak MAnfaaT bagiku...
kau mulai memberi dorongan kepadaku
dengan simpel "kamu mau di dorong pake apa biar bisa semangat LAgi?"

Kehidupan itu anggaP seperti AIR,,, belajar Banyak laH u DArinya....

.....Diam......