Jumat, 21 Januari 2011

Bahaya Lidah

Bila ada yang mengatakan kau bodoh, jangan langsung tersinggung kawan karena belum tentu ia lebih pintar darimu. Bila perlu berikan senyuman termanismu. Manusia tidak berhak untuk menilai manusia lainnya karena hanya Allah yang berhak menilai apakah manusia itu baik atau tidaknya.

Mungkin tanpa sadar atau tidak disengaja saya pernah mengatakan hal ini. Jadi maafkan saya apabila dari mulut saya terucap kata-kata yang mendoktrin “manusia ini tidak lebih pintar dari saya”, atau “kamu kok gaptek banget sih?” Secara sadar atau tidak, kita menganggap perkataan seperti itu hanya ucapan nyeleneh yang biasa. Tapi, bagaimana yang mendengar atau jadi “korban” ucapan kita? Apakah dia akan baik-baik saja setelah mendengar perkataan itu?

Kalau dia termotivasi lebih lagi dalam mencari ilmu Allah, itu baik. Tapi, bagaimana kalau dia menjadi tersinggung karena ucapan kita? Bahaya kawan. Jangan kita menoreh luka pada kawan-kawan kita hanya karena lidah kita. Karena bila ia belum memaafkan kamu, Allah tak akan memaafkan pula. Naudzubillahi mindzalik!

Saya pernah mengalami kejadian seperti ini. Saya pernah mengucapkan kata-kata yang membuat kawan saya tersinggung dan sampai-sampai ia tak ingin memaafkan kesalahan saya. Dalam kepala saya, saya tidak menyangka perkataan lidah saya ternyata membuat
kejadian begitu rumit. Sampai-sampai saya berkali-kali untuk meminta maaf tapi tak ada respon. Sampailah pada puncak lelah saya, saya menangis tersedu-sedu karena saya tak ingin keadaan menjadi lebih buruk, tali silahturahim kami rusak dan Allah murka pada saya.

Dalam kepala saya langsung teringat Q.S. Hujuraat:11 ; Hai-hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolo-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Allah menciptakan mulut ditengah-tengah dan hanya satu, Allah mempunyai alasannya. Lidah dipagar oleh gigi dan diselimuti oleh bibir agar kita sadar bahwa betapa bahayanya lidah tersebut. Jadi berhati-hatilah berucap.

Saya juga teringat cerita sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-shiddiq dan Umar bin khatab. Betapa sedihnya Abu Bakar ketika perkataannya ternyata membuat Umar bin Khatab sakit hati. Betapa sedihnya Abu Bakar ketika datang ke rumah Umar tidak di jawab salamnya sampai 3 kali. Sampai ia menangis.Maka, berhati-hatilah berucap dan segeralah beristigfar ketika sadar perkataan kita tak pantas untuk diucapkan.

Kawan, betapa hebatnya lidah itu bisa menghancurkan ukhuwah kita. Kawan, apabila saya pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati kalian, saya benar-benar minta maaf. Kawan, ilmu yang saya dapatkan tak sebanding dengan ilmu Allah, jadi ingatkan saya bahwa saya tidak lebih pintar dan tak berhak mendoktrin kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar