Bagi para wanita, menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu adalah berarti menjalankan sebuah peran besar dengan segala tuntutannya, ketika ia menikah, saat itu pula segala kesenangan serta kesusahan ditanggung bersama. Masa-masa indah di awal pernikahan, mungkin belum mendatangkan berbagai cobaan yang sebenarnya akan menguatkan ikatan cinta serta pula keimanan sepasang suami istri. Namun, ada pula mereka yang sejak awal harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan setengah dien
.
Tak sedikit kita mendapati cerita-cerita seputar lika-liku seputar rumah tangga, yang kadang membuat hati miris dan bahkan bisa jadi, mengakibatkan ketakutan bagi yang belum menikah. Khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan seperti para istri lainnya.
Terkait dengan pengantar diatas, saya sendiri mengalami cerita yang membuat hati saya tergerak dan menjadi pendengar baik bagi teman cerita saya. Tidak lain, dia keponakan saya sendiri. Keponakan yang masih berumur 10 tahun tetapi sudah banyak “skenario negatif” yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sering terjadi bahkan. Ia mengungkapkan rasa tidak sukanya ketika ia mendengar saya ingin menjalankan sunnah rasul yaitu menikah.
Ya dengan keras mengatakan tidak setuju dan tak ingin saya menikah dengan si fulan. Ketika ia menyatakan perkataan pedas itu, saya sedikit merinding ketika ia memberikan alasan mengapa ia tak ingin saya menikah.
“Nanti aku nggak ada yang sayang lagi.” Itu perkataan keras yang ia tujukan kepada saya sambil menutup matanya hampir mengeluarkan air mata. Terlihat ia tak ingin melihatkan air matanya mengalir begitu saja. Terlihat ia ingin tegar tetapi ia tidak bisa mengalahkan emosi dan rasa sedihnya.
Saya jadi diam terpaku, binggung harus berkata apa dan menjelaskan bagaimana agar ia menerima dengan pola pikir kekanakannya. Bagaimana ia bisa menerima penjelasan saya, masalah yang seharusnya tak perlu ia pikirkan. Ketika ia mengatakan seperti itu, saya sadar ia kurang kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh ibu tercintanya. Kurang pelukan lembut, “sekolah” yang wajar, dan rumah yang nyaman. Rumah tangga selain menjadi tempat untuk mendapatkan rahmat Allah, tempat untuk menjadi pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.
Mungkin dalam pikirannya, ia tak ingin saya menjadi korban kedua setelah apa yang terjadi pada ibunya. Ia tak ingin sosok calon suami saya malah menjadi bahaya bagi saya. Ia tak ingin melihat sinetron sama di tempat yang berbeda. Ia tak ingin orang-orang yang sayang padanya menjadi sosok yang gampang untuk menangis dan melampiaskan rasa emosinya kepada anak-anaknya. Mungkin itu yang ia pikirkan dan saya bisa membacanya.
Ia tak ingin rasa sayang yang saya berikan yang ia tak dapatkan sepenuhnya dari ibunya hilang dan berkurang ketika saya menikah apalagi mempunyai anak.
“Nanti kakak cuma sayang sama anaknya, lupa sama aku.” Itulah perkataan miris yang ia ucapkan dari bibir manisnya. Sepertinya saya susah untuk menerima perkataannya dan wajar ketika saya mempunyai anak akan saya curahkan kasih sayang yang ia bicarakan. Tapi, pada situasi ini. Perkataan egois itu tak akan saya ucapkan.
Dengan sangat hati-hati saya memberikan penjelasan yang masuk akal untuknya. Mengatakan kalau, nanti saya menikah rasa kasih sayang saya tak akan berkurang untuknya, saya akan tetap menjadi pendengar setianya ketika ia melihat tontonan ekstrim di rumahnya. Saya sadar, buah hatiku ini menjadi anak yang gampang tersinggung, jadi sosok anak yang cengeng, dan tidak bisa perkataan keras dan “alis terangkat”.
Kesulitan yang dihadapi merupakan ujian bagi daya tahan diri untuk melewatinya, momen penting untuk menguji tingkat keimanan yang telah diraih. Tenang sayang, saya akan menjadi ibu yang tegar kelak. Dan kamulah yang pertama kali yang saya bagikan rasa kasih sayang saya. Saya hanya berdo’a semoga kamu menjadi anak yang sholehah, tegar, dan menjadi orang pertama dan mengamini saya ketika saya membutuhkan tawa manis dan canda lucumu. Tetap tersenyum, sayang. I love you….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar